
Penggunaan AMOS semakin populer di kalangan peneliti, mahasiswa, dan praktisi data yang membutuhkan analisis Structural Equation Modeling (SEM). Meski begitu, Kesalahan AMOS Umum masih sangat sering terjadi, terutama pada pengguna pemula yang baru mengenal konsep dasar SEM. Akibatnya, hasil penelitian menjadi bias, model sulit tervalidasi, dan interpretasi menjadi keliru. Tidak jarang proses analisis menjadi berlarut-larut karena pengguna mencoba memperbaiki model tanpa memahami titik masalah sebenarnya.
Artikel ini akan membahas secara rinci kesalahan umum dalam menggunakan AMOS dan cara mengatasinya dengan pendekatan yang mudah dipahami, lengkap, serta mengikuti praktik terbaik dalam analisis SEM. Pembahasan ini diharapkan dapat membantu pengguna pemula maupun tingkat lanjut untuk menghasilkan model yang lebih akurat, valid, dan konsisten dengan teori.
Mengapa Kesalahan AMOS Umum Sering Terjadi?
Banyak pengguna terjun langsung ke software tanpa memahami prinsip dasar SEM. Padahal SEM bukan hanya soal menggambar diagram dan menekan tombol “Analyze”, tetapi membutuhkan pemahaman mendalam mengenai teori, asumsi statistik, hingga validitas model.
Beberapa alasan umum mengapa kesalahan ini terjadi antara lain:
- Minim pemahaman teori SEM
- Tidak memahami jenis variabel laten dan indikator
- Tidak mengetahui aturan dasar model fit
- Terburu-buru mengejar output dibanding memahami konsep
- Menggunakan AMOS sekadar mengikuti tutorial tanpa mengetahui alasannya
Karena itu, penting untuk mengidentifikasi dan memahami kesalahan apa saja yang sering muncul.
1. Kesalahan Menggunakan AMOS: Salah Menetapkan Hubungan Antar Variabel
Kesalahan paling mendasar dalam Kesalahan AMOS Umum adalah penetapan hubungan yang tidak sesuai teori. Banyak pengguna menghubungkan semua variabel tanpa dasar yang kuat, seolah AMOS adalah alat yang bisa memaksa data mengikuti keinginan pengguna. Akibatnya, model yang dibangun menjadi tidak logis dan sulit mencapai kelayakan meskipun telah dimodifikasi berulang kali.
Bentuk Kesalahan
- Menghubungkan semua variabel laten ke semua indikator tanpa konsep teoretis.
- Menjadikan variabel independen sebagai dependen hanya karena model tidak fit.
- Memaksakan hubungan antar variabel yang sebenarnya tidak relevan.
Cara Mengatasinya
- Bangun kerangka pemikiran berdasarkan teori, bukan intuisi.
- Pastikan hubungan antar variabel memiliki dasar empiris atau literatur kuat.
- Gunakan model awal (initial model) dan alternatif model (re-specified model) hanya jika perubahan didukung teori.
2. Kesalahan Menggunakan AMOS: Tidak Memenuhi Asumsi Dasar SEM
Banyak pengguna langsung mengolah data tanpa memeriksa asumsi statistik yang merupakan fondasi SEM.Padahal, pelanggaran pada asumsi dasar ini dapat menyebabkan hasil estimasi menjadi bias dan model sulit untuk mencapai tingkat kelayakan yang memadai.
Asumsi yang Sering Diabaikan
- Normalitas data (multivariate dan univariate)
- Tidak ada multikolinearitas berat antar variabel
- Ukuran sampel cukup
- Outlier tidak terdeteksi
- Linearitas hubungan antar variabel
Dampaknya
- Model tidak fit meski sudah dimodifikasi berkali-kali
- Nilai loading tidak stabil
- Signifikansi parameter menjadi bias
Cara Mengatasi
- Cek normalitas melalui skewness, kurtosis, dan critical ratio.
- Gunakan Mahalanobis Distance untuk mendeteksi outlier.
- Pastikan sample size minimal 5–10 kali jumlah parameter yang diestimasi.
- Gunakan scatterplot untuk memeriksa linearitas.
- Jika data terlalu skewed, gunakan transformasi log atau square root.
3. Kesalahan Menggunakan AMOS: Kesalahan dalam Menggambar Model
Banyak pengguna baru kesulitan menggambar model dengan benar. AMOS membutuhkan diagram yang terstruktur, tetapi kesalahan seperti salah arah panah atau indikator tidak terhubung sangat sering terjadi.
Kesalahan yang Sering Muncul
- Panah regresi diarahkan ke indikator, bukan ke variabel laten.
- Indikator tidak diberikan error term.
- Tidak memasukkan covariance pada konstruk laten yang saling berhubungan.
- Ada variabel laten yang tidak memiliki minimal 3 indikator.
Cara Mengatasinya
- Pahami bahwa panah dari variabel laten → indikator (bukan sebaliknya).
- Pastikan setiap indikator memiliki error.
- Tambahkan covariance jika struktur teoritis memang mendukung.
- Minimal 3 indikator untuk variabel laten agar hasil lebih stabil.
4. Kesalahan Menggunakan AMOS: Salah Membaca Output
Salah membaca output menjadi salah satu penyebab utama kesalahan menggunakan AMOS. Banyak pengguna hanya fokus pada nilai p-value tanpa melihat keseluruhan indikator model fit.
Kesalahan Umum
- Menganggap model sudah bagus hanya karena Chi-square tidak signifikan.
- Mengabaikan RMSEA, CFI, GFI, TLI, dan SRMR.
- Tidak memahami bahwa model fit adalah kombinasi banyak indeks.
- Langsung menerima nilai loading tanpa mengevaluasi apakah indikator valid.
Cara Mengatasinya
- Gunakan kombinasi indeks model fit:
- RMSEA < 0.08
- CFI > 0.90
- TLI > 0.90
- SRMR < 0.08
- Pastikan loading factor > 0.5
- Lihat Modification Indices dengan bijak, bukan sebagai tool pemaksaan model.
5. Kesalahan Menggunakan AMOS: Mengabaikan Validitas dan Reliabilitas
Banyak pengguna merasa cukup mendapatkan model fit tanpa mengevaluasi validitas dan reliabilitas konstruk. Padahal kedua aspek ini sangat krusial.
Jenis Validitas yang Sering Terlupakan
- Validitas konvergen
- Validitas diskriminan
Tanpa dua validitas ini, hasil SEM tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Cara Mengatasinya
- Hitung AVE (Average Variance Extracted), minimal 0.5.
- Hitung CR (Construct Reliability), minimal 0.7.
- Pastikan nilai square root AVE lebih besar dibanding korelasi antar konstruk.
6. Kesalahan Menggunakan AMOS: Over-Modifying Model
Saat model tidak fit, banyak pengguna tergoda melakukan modifikasi berlebihan melalui MI (Modification Indices) tanpa pertimbangan teoretis.
Kesalahan Telihat dari:
- Menambahkan covariance antar error secara acak.
- Menghapus indikator tanpa alasan kuat.
- Memodifikasi model hanya untuk mengejar nilai fit.
Dampak Fatal
Model kehilangan dasar teori, menjadi sekadar angka yang dipaksa fit. Validitas penelitian bisa dipertanyakan.
Cara Mengatasinya
- Lakukan modifikasi hanya jika didukung teori.
- Hindari overfitting data.
- Bandingkan model awal dan model akhir dengan teori.
7. Kesalahan Menggunakan AMOS: Menggunakan Data yang Tidak Sesuai untuk SEM
SEM bukanlah metode untuk semua jenis data. Banyak pengguna tetap memaksakan SEM meskipun datanya tidak memenuhi karakteristik yang diperlukan.
Contoh Data yang Tidak Cocok
- Data ordinal dengan skala 1–3 yang terlalu pendek.
- Data kecil kurang dari 100 sampel.
- Data dengan proporsi jawaban yang tidak seimbang.
Cara Mengatasinya
- Pastikan skala pengukuran minimal Likert 1–5.
- Gunakan minimal 150–200 sampel untuk model kompleks.
- Jika data kecil, pertimbangkan PLS-SEM sebagai alternatif.
8. Kesalahan Menggunakan AMOS: Tidak Melakukan Uji Model Pengukuran
Banyak peneliti langsung ke tahap full structural model tanpa melakukan Confirmatory Factor Analysis (CFA) terlebih dahulu.
Bahaya Melewati Tahap CFA
- Tidak tahu apakah indikator valid untuk konstruk.
- Model struktur bisa bias karena indikator tidak valid.
- Hasil SEM menjadi tidak terpercaya.
Cara Mengatasinya
- Lakukan CFA terpisah untuk setiap konstruk.
- Periksa loading, AVE, CR, dan model fit sebelum lanjut ke structural model.
9. Kesalahan Menggunakan AMOS: Kesalahan dalam Scaling Konstruk Laten
Mengunci nilai loading menjadi 1 pada indikator pertama adalah biasa, tetapi banyak pengguna salah memilih indikator yang dijadikan referensi.
Kesalahan
- Indikator yang paling lemah dijadikan referensi.
- Mengunci lebih dari satu indikator.
- Mengubah nilai loading tanpa alasan.
Cara Mengatasinya
- Pilih indikator yang paling kuat sebagai referensi.
- Lakukan standardisasi dengan tepat.
- Gunakan indikator dengan loading tertinggi sebagai acuan.
10. Kesalahan Menggunakan AMOS: Mengabaikan Reporting yang Benar
Banyak laporan hasil SEM dari AMOS tidak lengkap, sehingga penelitian sulit direplikasi.
Kesalahan dalam Pelaporan
- Tidak mencantumkan indeks fit.
- Tidak mencantumkan gambar model final.
- Tidak melaporkan CFA.
- Tidak mencantumkan nilai loading dan CR/AVE.
Cara Mengatasinya
- Ikuti standar pelaporan SEM (Byrne, Kline, Hair et al.).
- Sertakan tabel loading, nilai CR, AVE.
- Lampirkan model awal dan model final.
Kesimpulan: Penting untuk Menghindari Kesalahan Menggunakan AMOS
Menggunakan AMOS bukan sekadar menekan tombol analisis. Ia membutuhkan pemahaman teori, ketelitian statistik, serta proses validasi yang komprehensif. Dengan memahami berbagai kesalahan menggunakan AMOS seperti yang dijelaskan di atas, Anda dapat memastikan bahwa model SEM yang Anda bangun:
- Valid dan reliabel
- Memenuhi asumsi statistik
- Menghasilkan interpretasi yang kuat
- Tahan uji teori dan empiris
Menghindari kesalahan ini akan meningkatkan kualitas penelitian sekaligus membuat hasil analisis lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ingin konsultasi lebih lanjut tentang penggunaan AMOS, perbaikan model SEM, atau pendampingan olah data?
Tim kami siap membantu Anda dari tahap awal hingga interpretasi hasil secara profesional.
Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan solusi cepat, tepat, dan terpercaya.
Baca Juga : Hubungan Linearitas dan Goodness of Fit dalam SEM Amos

Leave a Reply